A. PENDAHULUAN
Segala puji hanyalah milik Allah. Kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang ditunjuki oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1. Gagasan (Wujud ideal). Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. .
2. Aktivitas (tindakan). Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3. Artefak (karya). Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dari masing-masing wujud kebudayaan diatas tentunya memilki nilai-nilai tersendiri baik yang bersifat positif ataupun negatif dan Melalui makalah ini kami berusaha untuk sedikit menjelaskan beberapa dampak positif dari wujud ideal atau sistem budaya yang baragam.
Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri maupun bagi para pembaca dan kami mengakui bahwa makalah kami jauh dari kesempurnaan karena itulah kami menginginkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.
B. PEMBAHASAN
Nilai, norma, dan gagasan budaya memiliki dampak positif sebagai berikut:
A. Perkembangan Berpikir Dan Kreatifitas.
Gagasan, nilai, dan norma budaya yang beragam dapat mendorong perkembangan berpikir dan juga kreatifitas, hal itu dapat dilihat dari beberapa sudut pandang diantaranya dari sudut pandang dunia perekonomian.
Perencanaan kampanye suatu produk memerlukan biaya yang sangat besar, sehingga harus direncanakan dengan matang melalui riset agar tidak terjadi kegagalan yang harus dibayar mahal. Kegagalan itu dapat berupa biaya iklan yang sia-sia dan produk yang diiklankan menjadi tidak laku. Berbagai cara dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi, dan hal yang sangat penting adalah dengan mempertimbangkan faktor kebudayaan yang berlaku di calon konsumen sebab setiap bangsa di setiap negara memiliki kebudayaan yang bebeda beda. Faktor kebudayaan membawa pengaruh besar terhadap keberhasilan positioning produk yang akan dipasarkan. Dengan memperhatikan kebudayaan yang berlaku di lingkungan sekitar sasaran, diharapkan iklan dapat lebih mengena sasaran. Sasaran merasakan bahawa produk itu bagian dari dirinya.
Positioning merupakan hal yang sangat penting sebagai penentu keberhasilan dalam persaingan antar produk. Keberhasilan positioning yang tepat akan memacu peningkatan angka penjualan produk yang bersangkutan dalam persaingan. Di sinilah para kreatif sangat berperan dalam penentuan positioning. Para kreatif di biro iklan memikirkan cara memposisikan produk di benak konsumen agar produk-produk tersebut laku. Dan hal ini semua dapat mendorong perkembangan berpikir dan kreatifitas terutama dalam bidang positioning.
Diantara contoh hasil kreatifitas positioning adalah mobil Kijang produksi Toyota yang dipasarkan di Indonesia, sehingga sering disebut juga Toyota Kijang. Pabrik mobil Toyota sendiri adalah produsen mobil terbesar di Jepang yang membidik berbagai kelompok pasar di berbagai negara. Di Indonesia, Toyota memasarkan mobil dari yang ekonomis, seperti Toyota Kijang, sampai mobil mewah, seperti Toyota Lexus. Ditinjau dari segi harga, Kijang bukanlah mobil keluarga yang paling ‘murah’, namun dengan positioning yang tepat, angka penjualan ‘terdongkrak’ naik.
Toyota Kijang dipromosikan melalui media cetak, seperti surat kabar, majalah, dan media elektronik, seperti televisi dan radio. Pada media elektonik, seperti televisi, ada seorang anak yang mengatakan bahwa kakek, nenek, ayah, ibu, aah, teteh, tante-tante sebelah bisa masuk Kijang. Kemudian muncul kata-kata slogan, Kijang memang tiada duanya. Iklan ini menunjukkan bahwa Kijang memang dibuat untuk keluarga. Dengan kata lain Kijang telah diposisikan sebagai kendaraan keluarga.
Keluarga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seseorang (individu) dalam budaya masyarakat Indonesia, bahkan dalam kebanyakan budaya timur. Masyarakat Indonesia dibesarkan dalam sistem budaya gotong royong keluarga, juga lingkungan sekitar rumah. Budaya ini telah diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya dan dibiasakan dengan belajar. Hal ini terbukti dengan masih kuatnya adat perkawinan, penghormatan kepada anggota keluarga yang lebih tua. Sedangkan dalan lingkungan sekitar rumah terbukti dengan adanya Rukun Tetangga atau yang disebut juga dengan RT dan Rukun Warga yang disebut juga dengan RW sebagai kesatuan yang lebih besar dari RT. Anggota masyarakat yang satu dilibatkan bekerjasama dengan anggota masyarakat yang lain, misalnya dalam acara arisan ibu-ibu, gotong royong dalam setiap acara tujuh belas Agustus, saling mengunjungi bila ada upacara perkawinan dan kematian. Oleh karena itu, adalah ide yang baik bila menggunakan keluarga sebagai tokoh dalam mengiklankan produk. Pesan tersebut akan sampai lebih cepat ke benak konsumennya dan mudah diingat, karena merupakan pengalaman pribadi calon konsumen yang telah terumuskan dengan baik, bahkan menyatu dalam pribadi calon konsumen. Setelah adanya iklan Kijang yang memposisikan dirinya sebagai mobil keluarga yang tiada duanya di benak calon konsumen, angka penjualan langsung meningkat dengan cepat.
B. Multikultural
Multikultur berasal dari kata multi dan kultur. Multi artinya banyak, dan kultur biasa disamakan dengan kata budaya. Dengan demikian kata multikultur bermakna budaya yang banyak atau keberagaman budaya. kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak
Konsep multikulturalisme tidak dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Multikulturalisme mau tidak mau juga akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha HAM, hak budaya komunitas dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, serta tingkat serta mutu produktifitas.
Multikulturalisme lebih bermakna sebagai cara berpikir, cara bertindak, dan berperilaku manusia dalam memandang kebudayaan lain yang berbeda atau beragam dengan kebudayaan kita adalah sebagai suatu hal yang wajar. Oleh karena itu menghargai dan menghormati kebudayaan lain serta memandang kebudayaan masyarakat lain secara sama adalah suatu keharusan. Multikulturalisme memandang bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk mengembangkan kebudayaannya.
C. Memunculkan Ide Pendidikan
Pendidikan merupakan media transformasi budaya yang cukup ampuh dalam menciptakan iklim yang harmonis. Dengan menghadirkan paradigma baru pendidikan multikultural dapat menjadi jawaban tepat atas beberapa problematika yang ada. Perlu kita sadari bersama, bahwa proses pendidikan adalah proses pembudayaan.
Mewujudkan cita-cita persatuan bangsa merupakan suatu unsur budaya nasional. Pendidikan multikultural dapat kita rumuskan sebagai wujud kesadaran tentang keanekaragaman kultural, hak-hak asasi manusia serta pengurangan atau penghapusan berbagai jenis prasangka untuk membangun suatu kehidupan masyarakat yang adil dan maju. Selain itu, pendidikan multikultural bisa juga diartikan sebagai strategi untuk mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya (the pride in one’s home nation). Di Indonesia, pendidikan multikultural relatif baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang heterogen, plural, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru diberlakukan sejak 1999 lalu hingga saat ini.
Penyelenggaraan “model” pendidikan multikultural yang harus dikembangkan di Indonesia adalah yang sesuai dengan karakter sosiokultural masyarakat Indonesia, dan dilaksanakan dengan prinsip hati-hati. Apabila hal itu dilaksanakan dengan tidak berhati-hati, justru mungkin akan menjerumuskan kita ke dalam perpecahan nasional (disintegrasi bangsa).
D. Memunculkan Sifat Selektif Terhadap Budaya
Dengan banyaknya nilai-nilai dan gagasan yang baru dalam kebudayaan akan menimbulkan pola pikir masyarakat yang selektif.
Kita ambil contoh budaya di kota Gresik. Gresik memang mempunyai sejarah religi yang sgt kuat hingga saat ini, dan Gresik dikenal sebagai kota santri sekaligus kota industri. Dan sisa-sisa karakter agamis kini masih dapat ditemui. Tetapi dapat dikatakan berlebihan kalau kini Gresik secara substansial masih layak disebut sebagai kota santri. Memang dahulu Gresik dikenal sebagai kota santri karena memang masyarakatnya mampu menempatkan budaya Islam sebagai kebudayaan yang dominan. Namun, kebudayaan Islami kini kian hari kian sulit untuk ditemui di Gresik, utamanya di kalangan anak-anak muda. Ada beberapa hal yang dapat diargumentasikan sebagai fakta bahwasannya telah terjadi degradasi budaya santri. Pertama, rendahnya etos dalam mencari ilmu di lingkungan masyarakat Gresik, khususnya dalam ilmu agama. Rendahnya budaya mencari dan mendalami ilmu agama ini dapat diamati dari rendahnya intensitas melakukan pengkajian terhadap ilmu agama, dan sebaliknya lebih membudayakan pengkajian untuk sekedar mendapatkan kepraktisan dalam beragama. Kedua, terjadinya degradasi etika religius yang berdampak pada munculnya dekadensi moral di kalangan generasi muda.
Kaum muda di Gresik (diakui atau tidak) semakin menjauh dari nilai-nilai agama. Masjid di Gresik kian bertebaran, tapi kalangan muda justru lebih memilih warung kopi dengan pelayan-pelayan ABG yang seksi sebagai tempat berkumpul. Ironisnya , kondisi tersebut kurang mendapat perhatian serius dari aparat pemerintahan sendiri. Di sisi lain, masyarakat sekitar pun tidak begitu peduli dengan fenomena tersebut. Tidak ada kekhawatiran sedikit pun terhadap efek negative dari warkop-warkop yang tidak sekedar menjual kopi tersebut. Ketiga, meningkatnya mentalitas kapitalisme di lingkungan masyarakat. Perubahan dari budaya masyarakat santri ke masyarakat industry telah benar-benar mengubah mentalitas masyarakat.
Bergantinya budaya masyarakat Gresik dari ‘budaya santri’ ke ‘budaya sekuler’ tersebut tidak hanya terlihat dari berubahnya pola pikir masyarakat awam. Kehidupan keberagaman di Gresik pun berubah menjadi sesuatu yang sangat formalistis semata. Masjid seharusnya kembali sebagai sarana untuk mengelaborasi ilmu-ilmu keislaman dan sekaligus untuk menyelesaikan persoalan keumatan seperti kemiskinan & kebodohan. Dari masjidlah seharusnya masalah moral dihembuskan sehingga tempat-tempat umum mendapat imbasnya.
C. Penutup
Negara Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa yang ada di dalamnya merupakan sesuatu yang harus kita terima. Hal ini adalah ketentuan Allah subhanahu wata'ala yang Dia menjadikan di dalamya hikmah yang sangat banyak, diantaranya adalah agar manusia saling mengenal satu sama lain, dan hikmah-hikmah yang lainnya.
Keragaman suku bangsa ini otomatis melahirkan ide-ide yang beraneka ragam pula, karena masing-masing kepala memiliki gagasan dan ide tersendiri. Setiap suku memiliki nilai, norma dan ide yang berbeda dengan suku lainnya. Keanekaragaman ini menimbulkan dampak-dampak positif bagi masyarakat secara umum, adalah perkembangan berpikir dan kreatifitas, multikultural, memunculkan ide pendidikan, serta memunculkan sifat selektif terhadap budaya.
Saling Berbagi Pengetahuan
Sabtu, 01 Januari 2011
Selasa, 23 November 2010
al-irsyad
BAB I
Pendahuluan
Lahirnya beberapa organisasi islam di indonesia lebih banyak karena didorong oleh mulai tumbuhnya sikap patriotrisme dan rasa nasionalisme serta sebagai respons terhadap kepincang-pincangan yang ada dikalangan masyarakat Indonesia pada akhir abad ke- 19 yang mengalami kemunduran total sebagai akibat eksploitasi politik pemerintah kolonial belanda.
Walaupun banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah kolonial belanda waktu itu untuk membendung pergolakan rakyat Indonesia melalui media pendidikan, namun tidak banyak membawa hasil, malah justru berakibat sebaliknya makin menumbuhkan kesadaran tokoh-tokoh organisasi Islam untuk melawan penjajah Belanda, dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan rasa nasionalisme dikalangan rakyat dengan melalui pendidikan. Dengan sendirinya kesadaran berorganisasi yang dijiwai oleh perasaan nasionalisme yang tingi, menimbulkan perkembangan dan era baru di lapangan pendidikan dan pengajaran. Dan dengan demikian lahirlah beberapa perguruan-perguruan Nasional, yang di topang oleh usaha-usaha swasta (partikelir menurut istilah waktu itu yang berkembang sejak tahun 1900).
Para pemimpin pergerakan nasional dengan kesadaran penuh ingin mengubah keterbelakangan rakyat Indonesia. Mereka insyaf bahwa penyelenggaraan pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukkan ke dalam agenda perjuangannya. Maka lahirlah sekolah-sekolah swasta atas usaha para perintis kemerdekaan. Sekolah-sekolah itu semula memiliki dua corak, yaitu:
1. sesuai haluan politik, seperti:
a)Taman siswa
b)Sekolah Serikat Rakyat di Semarang
c)Ksatrian Institut
d)Perguruan Rakyat
2. sesuai dengan tuntunan atau ajaran agama islam, yaitu:
a)Sekolah-sekolah Serikat Islam
b)Sekolah-Sekolah Muhammadiyah
c)Sumatra Tawalib
d)Sekolah-Sekolah Nahdatul Ulama
e)Sekolah-Sekolah Persatuan Umat Islam (PUI)
f)Sekolah-Sekolah Al Jami’atul Wasliyah
g)Sekolah-Sekolah Al-Irsyad
h)Sekolah-Sekolah Normal Islam .
Dan pada makalah ini, insya allah kami akan menjelaskan secara ringkas mengenai organisasi keagamaan dan gerakan pendidikan islam, lebih kususnya adalah tentang Al-Irsyad. Dan semoga dengan makalah ini, kita bisa mengetahui pendidikan Al-Irsyad, sekaligus menambah wawasan dan pemahaman kita tentang pendidikan Al-Irsyad.
BAB II
Pembahasan
A. Sejarah awal berdirinya Al-Irsyad
Syekh Ahmad Surkati adalah tokoh utama berdirinya Jam'iyat al-Islah wa Al-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berubah menjadi Jam'iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) , yang mana kemudian lebih terkenal dengan sebutan Al-Irsyad . Yang mana perkumpulan ini terdiri dari golongan-golongan Arab yang bukan Awali .
Syekh Ahmad Surkati lahir di Desa Udfu, Jazirah Arqu, Dongula (Sudan), 1292 H atau 1875 M. Ayahnya bernama Muhammad dan diyakini masih punya hubungan keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, Sahabat Rasulullah saw. dari golongan Anshar.
Syekh Ahmad Surkati lahir dari keluarga terpelajar dalam ilmu agama Islam. Ayahnya, Muhammad Surkati, adalah lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir. Syekh Ahamd dikenal cerdas sedari kecil. Dalam usia muda, ia sudah hafal Al-Qur'an.
Setamat pendidikan dasar di Mesjid Al-Qaulid, Ahmad Surkati dikirim oleh ayahnya belajar di Ma'had Sharqi Nawi, sebuah pesantren besar di Sudan waktu itu. Ia kembali lulus memuaskan, dan ayahnya ingin ia bisa melanjutkan ke Uniersitas Al-Azhar di Mesir. Namun pemerintahan Al-Mahdi yang berkuasa di Sudan waktu itu, melarang warganya meninggalkan Sudan. Putus keinginan Ahmad muda untuk mengikuti jejak ayahnya, menjadi sarjana Al-Azhar.
Namun suatu waktu, Ahmad Surkati bisa juga lolos dari Sudan dan berangkat ke Madinah dan Mekkah, untuk belajar agama. Tepatnya, setelah ayah beliau wafat pada tahun 1896 M. Di Mekkah, ia sempat memperoleh gelar Al-Allaamah yang prestisius waktu itu, dari Majelis Ulama Mekkah, pada 1326 H . Syekh Ahmad surkati tinggal di Madinah selama 4 tahun, setelah itu ia pergi ke Makkah dan tinggal disana selama 11 tahun .
Meski berada di Mekkah, ia rutin berhubungan dengan ulama-ulama Al-Azhar lewat surat menyurat. Hingga suatu waktu datang utusan dari Jami'at Kheir (Indonesia) untuk mencari guru, ulama Al-Azhar langsung menunjuk ke Syekh Ahmad. Dan beliaupun pergi ke Indonesia bersam dua kawan karibnya, Syekh Muhammad Abdulhamid al-Sudani dan Syekh Muhammad Thayyib al-Maghribi.
Di negeri barunya ini, Syekh Ahmad menyebarkan ide-ide baru dalam lingkungan masyarakat Islam Indonesia. Syekh Ahmad Surkati diangkat sebagai Penilik sekolah-sekolah yang dibuka Jami'at Kheir di Jakarta dan Bogor.
Berkat kepemimpinan dan bimbingannya, dalam waktu satu tahun sekolah-sekolah tersebut maju pesat. Namun Syekh Ahmad Surkati hanya bertahan tiga tahun di Jami'at Kheir, karena perbedaan faham yang cukup prinsipil dengan para penguasa Jami'at Kheir, yang umumnya keturunan Arab sayyid (alawiyin).
Sekalipun Jami'at Kheir tergolong organisasi yang memiliki cara dan fasilitas modern, namun pandangan keagamaannya, khususnya yang menyangkut persamaan derajat, belum terserap baik. Ini nampak setelah para pemuka Jami'at Kheir dengan kerasnya menentang fatwa Syekh Ahmad Surkati tentang kafaah (persamaan derajat).
Karena tak disukai lagi, Syekh Ahmad memutuskan mundur dari Jami'at Kheir, pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan dihari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya dari golongan non-Alawi mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya: Jam'iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berganti nama Jam'iyat al-Islah wal-Irsyad Al-Islamiyyah) .
B.Peranan dan Kontribusi Al-Irsyad Dalam Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
Al-Irsyad di masa-masa awal kelahirannya dikenal sebagai kelompok pembaharu Islam di Nusantara, bersama Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai "Trio Pembaharu Islam Indonesia." Mereka bertiga juga berkawan akrab, Malah menurut A. Hassan, sebetulnya dirinya dan Ahmad Dahlan adalah murid Syekh Ahmad Surkati, meski tak terikat jadwal pelajaran resmi .
Al- Irsyad memandang pendidikan adalah satu-satunya cara untuk mereformasi masyarakat Islam. Bagi para Irsyadi, pendidikan dimaksudkan untuk mencapai dua sasaran. Pertama, ia dimaksudkan untuk mendidik siswa dalam memahami Islam yang benar dengan mengajarkan kepada mereka membaca dan menafsirkan Al-Qur’an dan menolak bid’ah dan khurafat. Kedua, Siswa harus dididik dalam hal ilmu pengatahuan modern dan bahasa-bahasa agar bisa untuk mengatasi keterbelakangan masyarakat Islam (Kesheh, Natalie Mobini, 1997: 30). Dalam perkembangannya, organisasi ini berlandaskan atas apa yang disebut dengan mabadi. Mabadi berasal dari kata Mabda dalam artian bahasa Indoneia mempunyai makna azas; sikap; prinsip; kaidah; landasan atau keyakinan. Adapun isi mabadi Al-Irsyad sendiri awalnya terdiri atas:
1) Mengesakan Allah dengan sebersih-bersihnya peng-esa-an dari segala hal yang berbau syirik, mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala hal.
2) Mewujudkan kemerdekaan dan persamaan dikalangan kaum Muslimin berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, perbuatan para imam yang sah serta perilaku ulama salaf dalam persoalan khilafiyah.
3) Memberantas taqlid buta yang tidak ada sandarannya pada Al-qu’an ataupun sunnah nabi muhammad.
4) Menyebarkan ilmu pengetahuan, kebudayaan Arab-Islam dan budi pekerti luhur yang diridhai Allah.
5) Berusaha mempersatukan kaum muslimin dan bangsa Arab sesuai dengan kehendak dan ridho Allah.
Pada awal perkembangan Al-Irsyad, mabadi diterapkan oleh syekh Ahmad sukarti didalam lembaga pendidikan yang langsung dipimpinnya. Penerapannya pada tahap awal dibatasi pada fungsi mencetak pendidik dan pengajar (dai/ muballigh). Sasaran perwujudan dua fungsi diatas adalah untuk mengatasi kebodohan dan kekurangan tenaga pemimpin dalam masyarakat dewasa itu.
Adapun usaha yang ditempuh untuk menerapkan mabadi sebagai materi yang mampu menjiwai para guru dan sebagai kurikulum dalam pelajaran disekolah-sekolah Al-Irsyad adalah:
1) Tahap Pertama: Menjadikan para pendidik/ tenaga pengajar sekolah, sebagai inti yang harus memahami mabadi dan mempraktikannya dalam keseharian hidupnya. Dari upaya itu diharapkan sekolah-sekolah Al-Irsyad mendapat semangat baru dan mampu bangkit dengan baik.
2) Tahap kedua: Memikirkan bagaimana menyiapkan operasionalisasi materi tersebut sebagai mata pelajaran. Menyusun kurikulum dan kelengkapan instruksional pendidikan lainnya.
3) Tahap ketiga: Mencetak murid-murid bermutu yang dapat menerapkan mabadi Al-Irsyad dalam dirinya, kemudian mampu menjabarkan dalam masyarakat.
Banyak sekali aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan di sekolah-sekolah Al-Irsyad, dimana pemimpin-pemimpin Al-Irsyad di masa yang akan datang dididik dan direkrut dari sini, dan kebanyakan pemimpin-pemimpin tersebut pada gilirannya mengajar pada sekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian, hal tersebut mengauatkan betapa besar peranan dan kontribusi Al-Irsyad dalam dunia pendidikan Indonesia. Bahkan sebagian besar tokoh besar Muhammadiyah kala itu adalah kader-kader yang dibina dalam lembaga pendidikan Al-Irsyad .
Al-Irsyad sendiri menjuruskan perhatian pada bidang pendidikan, terutama pada masyarakat Arab, ataupun pada permasalahan yang timbul dikalangan Arab, walaupun orang-orang indonesia islam bukan Arab, ada yang menjadi anggotanya. lambat laun dengan bekerja sama dengan organisasi Islam yang lain, seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam, organisasi Al-Irsyad meluaskan pusat perhatian mereka kepada persoalan-persoalan yang lebih luas, yang mencakup persoalan Islam umumnya di Indonesia. Ia juga turut serta dalam berbagai kongres al Islam pada tahun 1920 an dan bergabung pada majelis Islam A’la Indonesia ketika federasi ini didirikan pada tahun 1937. Pemuda-pemuda Indonesia asli juga mempergunakan fasilitas Al-Irsyad dalam bidang pendidikan .
C. Jenis-jenis dan Model pendidikan Al-Irsyad.
Pada tahun pertama berdirinya, Al-Irsyad telah membuka sekolah di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Murid-muridnya campuran dari anak-anak keturunan Arab dan anak-anak Indonesia asli yang tinggal di Pondok Bandung, belakang stasiun Tanah Abang.
Setelah tiga tahun berdiri, Perhimpunan Al-Irsyad mulai membuka sekolah dan cabang-cabang organisasi di banyak kota di Pulau Jawa. Setiap cabang ditandai dengan berdirinya sekolah (madrasah). Cabang pertama di Tegal (Jawa Tengah) pada 1917, dimana madrasahnya dipimpin oleh murid Syekh Ahmad Surkati angkatan pertama, yaitu Abdullah bin Salim al-Attas. Kemudian diikuti dengan cabang-cabang Pekalongan, Cirebon, Bumiayu, Surabaya, dan kota-kota lainnya .Cabang-cabang inipun juga menirikan sekolah-sekolah, umumnya semua ditingkat rendah. Pada tahun 1930 an cabang surabaya mendirikan sekolah guru 2 tahun dan sebuah sekolah dasar tingkat rendah berbahasa belanda yang bernama schakel school.
Sekolah Al-Irsyad di Jakarta lebih banyak jenisnya. Terdapat sekolah-sekolah tingkat dasar, sekolah guru, bagian takhassus (dengan pelajaran dua tahun) dimana pelajar dapat mengadakan spesialisasi dalam bidang agama, pendidikan atau bahasa, tetapi struktur seperti ini meminta waktu tahunan untuk dibangun. Mulanya tiap peminat, umur berapapun dapat diterima, sebagai murid, sehingga tidaklah merupakan suatu hal yang luar biasa untuk menemui didalam sekolah tingkat dasar seorang anak muda 18 atau 19 tahun duduk berdampingan dengan anak berumur 8 atau 9 tahundalam suatu kelas. Memang diantara anak-anak itu ada yang telah mendapat pelajaran di sekolah-sekolah lain sebelum memasuki Al-Irsyad.
Perbaikan organisasi sekolah dimulai tahun 1924 ketika sebuah peraturan dikeluarkan bahwa hanya anak-anak dibawah umur 10 tahun yang dapat diterima pada kelas satu sekolah dasar yang lama belajarnya lima tahun. Pelajar-pelajar dari sekolah guru juga mempunyai kesempatan untuk latihan mengajar. Anak yang lebih dari 10 tahun dapat masuk kekelas-kelas yang lebih tinggi, bergantung pada kemampuan yang diperlihatkannya pada ujian masuk. Mereka yang tinggal di asrama sekolah, menerima pula latihan olahraga. Pada waktu itu pemimpin-pemimpin Al-Irsyad lamban laun lebih banyak mengenal tulisan-tulisan Muhammad Abduh tentang pendidikan. Dalam brosur yang dikeluarkan pada tahun 1938 mereka mencontoh saran-saran Muhammad Abduh bahwa dalam mendidik seorang anak hendaklah tekanan diberikan pada tauhid, fiqih dan sejarah. Tauhid akan memungkinkan seorang untuk mengembangkan jiwa dan harta tanpa ragu. Fiqih akan memperbaiki budi pekerti dan batin manusia dari segala noda serta memberi pelajaran dalam hak halal dan haram yang bersandar pada Al-Quran dan hadits-hadits nabi . Secara umum dapat dikemukakan bahwa pendidikan merupakan pembentuk watak, pembentukan kemauan dan latihan untuk melaksanakan kewajiban .
Sekolah-sekolah Al-Irsyad berbeda dari model tradisional, perbedaan ini dalam banyak hal. Rata-rata SD Al-Irsyad memiliki 100 sampai 200 murid, yang membuatnya ini lebih besar dari pada sekolah Arab tradisional. Kebanyakan murid-muridnya adalah anak dari saudagar-saudagar Hadhrami, tetapi orang-orang Indonesia asli juga ada di sekolah-sekolah tersebut. Mereka biasanya anak-anak dari anggota masyarakat Muslim elit di Indonesia, sudagar-saudagar kaya, guru-guru agama dan pegawai-pegawai pemerintah.
Sekolah-sekolah tersebut didasarkan pada suatu sistem kelas-kelas bertingkat/berjenjang, ini sangat berbeda sekali dengan sekolah-sekolah tradisional, dimana murid-murid segala usia diajar bersama-sama dalam sebuah kelompok. Berbagai murid belajar berbagai macam mata pelajaran agama Islam dan umu. Pada awal sekolah, kurikulum didominasi oleh pelajaran bahasa Arab dan dasar-dasar Islam. Sejalan dengan meningkatnya kemajuan, mereka dikenalkan dengan mata pelajaran baru seperti Geografi, Sejarah, Aritmatika, Kesehatan, Tata Buku, Olah Raga, Bahasa Melayu dan Belanda.
perbedaan terbesar dengan sekolah-sekolah tradisional Arab adalah pada dasarnya pendidikan Al-Irsyad memasukkan suatu dasar-dasar modernisasi, suatu pengembangan tentang gagasan dan perkembangan tentang gagasan dan kebiasaan dari Barat yang modern. Ini merupakan suatu kecenderungan yang jauh melewati kurikuluk sekolah. Untuk memulainya, maka gedung-gedung sekolah harus memperhatikan teknologi yang modern. Sekolah-sekolah Al-Irsyad juga menggalakkan untuk menggunakan pemakaian pakaian modern. Foto-foto memperlihatkan bahwa murid laki-laki memakai kemeja putih dengan celana pendek atau celana panjang, sepatu dan kaos kaki, beberapa bahkan menghiasi diri dengan dasi. Tidak ada satupun dari hal-hal di atas bisa didapatkan dalam suatu sekolah tradisional.
Jika dilihat dari segi kurikulum, kurikulum yang digunakan di sekolah-sekolah Al-Irsyad jauh berbeda dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari komposisi mata pelajaran yang diajarkan di Al-Irsyad adalah 60% adalah mata pelajaran umum, seperti Matematika, Geografi, Sejarah, dan lain sebagainya Sedangkan 40% adalah mata pelajaran mengenai agama Islam, seperti Al-Qur’an, Hadits, Fikih, Tauhid, Akhlak, Nahwu Shorof, Bahasa Arab, serta mata pelajaran Mabādĩ Al-Irsyad, dan lain sebagainya. Dalam perkembangannya, sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah sejak awal berdirinya sampai sekarang selalu bernaung dibawah Departemen Pendidikan Nasional. Sedangkan Al-Irsyad, menurut Kesheh (1997: 34) dari awal berdirinya memang organisasi dibidang pendidikan yang sangat desentralisasi. Sehingga aktivitas-aktivitasnya berasal dan dilaksanakan pada tingkat cabang, sedangkan para eksekutifnya sedikit saja melakukan suatu peranan koordinasi. Sedangkan dalam perkembangannya sekolah-sekolah ini dibawah kordinasi dengan Departemen Agama yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional .
Sejak awal berdirinya, Al-Irsyad Al-Islamiyyah bertujuan memurnikan tauhid, ibadah dan amaliyah Islam. Bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Untuk merealisasikan tujuan ini, Al-Irsyad sudah mendirikan ratusan sekolah formal dan lembaga pendidikan non-formal di seluruh Indonesia. Dan dalam perkembangannya kemudian, kegiatan Al-Irsyad juga merambah bidang kesehatan, dengan mendirikan beberapa rumah sakit. Yang terbesar saat ini adalah RSU Al-Irsyad di Surabaya dan RS Siti Khadijah di Pekalongan .
Murid-murid Al-Irsyad, pada tahun-tahun pertama didirikan, terdiri dari anak-anak kalangan Arab dan sebagian juga (walau dalam jumlah yang lebih kecil) anak-anak Indonesia asli dari Sumatera dan Kalimantan. Kemudian lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang masuk sekolah itu. Di luar Jakarta dan Surabaya murid-muridnya terdiri dari anak-anak keluarga setempat saja. Mereka banyak terdiri dari ana-anak penghulu, pedagang dan guru-guru dan beberapa diantaranya anak-anak pegawai pemerintah. Para lulusan yang termasuk yang di Jakarta dan Surabaya pada umumnya menjadi guru ataupun pedagang .
Namun perkembangan Al-Irsyad yang awalnya naik pesat, kemudian menurun drastic bersamaan dengan masuknya pasukan pendudukan Jepang ke Indonesia. Apalagi setelah Syekh Ahmad Surkati wafat pada 1943, dan revolusi fisik sejak 1945. Banyak sekolah Al-Irsyad hancur, diporak-porandakan Belanda karena menjadi markas laskar pejuang kemerdekaan. Sementara beberapa gedung milik Al-Irsyad yang dirampas Belanda, sekarang berpindah tangan, tanpa bisa diambil lagi oleh Al-Irsyad.
D. Kondisi pendidikan Al-Irsyad pada saat ini.
Sekolah-sekolah Al-Irsyad pada masa sekarang mengalami penurunan kwalitas organisasi, serta mutu. Penurunan mutu ini dikarenakan:
1) Sekolah Al-Irsyad pada masa kini tidak mengajarkan mabadi Al-Irsyad kepada murid-muridnya. Ynag diajarkan adalah pelajaran ke-Al-Irsyad-an. Terminologi salah yang mengadopsi dari mata pelajaran ke-Muhammadiyah-an dilingkungan Organisasi Muhammadiyah.
2) Murid yang tamat dari sekolah Al-Irsyad tidak diberi bekal mabadi dan karenanya tidak cukup mempunyai persiapan dalam menghadapi kehidupan sesudah keluar dari jenjang pendidikan Al-Irsyad. Dengan kata lain hanyalah merupakan usaha yang sia-sia belaka.
3) Secara organisatoris Al-Irsyad Al-Islamiyyah terkena dampak akibat kurikulum pendidikan yang salah tersebut.
4) Guru-guru sekolah Al-Irsyad juga tidak memahami dengan baik mabadi Al-Irsyad sehingga tidak mampu menerapkan materi tersebut kepada anak didiknya.
5) Mabadi Al-Irsyad merupakan barang asing, diketahui hanya untuk sebatas pelajaran sejarah Al-Irsyad dan tidak menyentuh esensi perjuangan pembaharuan Islam karenanya tidak memberikan dampak yang berarti terhadap diri murid-murid .
BAB III
Kesimpulan
Peran Al-Irsyad dalam pendidikan di Indonesia sangat berpengaruh dan memberikan corak tersendiri dalam sistem pendidikan di negara kita, disaat banyaknya sekolah-sekolah yang lebih mementingkan kepentingan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek moral, Al-Irsyad tampil sebagai pendidikan yang menimbang aspek moral, yang bertujuan untuk meningkatkan moral bangsa Indonesia dan menjadikan penerus-penerus bangsa yang taat terhadap agamanya. Selain itu Al-Irsyad juga turut meningkatkan mutu pendidikan, sepak terjang Al-Irasyad dalam dunia pendidikan tidak diragukan atas kontribusinya dalam mendidik rakyat di negara kita Indonesia. Pada masa kemasa Al-irasyad pun mengalami perkembangan cukup pesat.
BAB IV
Daftar Pustaka
1.Dra. Zuhairini, dkk, sejarah pendidikan islam, Bumi Aksara, Jakarta,2008.
2.Prof. Dr. H. Nizar, Syamsul. Sejarah pendidikan islam di Indonesia, Bandung, pustaka setia, 2006.
3.www.alirsyad.org.
4.http: history-upi.blogspot.com201001islam-dan-pendidikan-al-irsyad-al.htm.
Pendahuluan
Lahirnya beberapa organisasi islam di indonesia lebih banyak karena didorong oleh mulai tumbuhnya sikap patriotrisme dan rasa nasionalisme serta sebagai respons terhadap kepincang-pincangan yang ada dikalangan masyarakat Indonesia pada akhir abad ke- 19 yang mengalami kemunduran total sebagai akibat eksploitasi politik pemerintah kolonial belanda.
Walaupun banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah kolonial belanda waktu itu untuk membendung pergolakan rakyat Indonesia melalui media pendidikan, namun tidak banyak membawa hasil, malah justru berakibat sebaliknya makin menumbuhkan kesadaran tokoh-tokoh organisasi Islam untuk melawan penjajah Belanda, dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan rasa nasionalisme dikalangan rakyat dengan melalui pendidikan. Dengan sendirinya kesadaran berorganisasi yang dijiwai oleh perasaan nasionalisme yang tingi, menimbulkan perkembangan dan era baru di lapangan pendidikan dan pengajaran. Dan dengan demikian lahirlah beberapa perguruan-perguruan Nasional, yang di topang oleh usaha-usaha swasta (partikelir menurut istilah waktu itu yang berkembang sejak tahun 1900).
Para pemimpin pergerakan nasional dengan kesadaran penuh ingin mengubah keterbelakangan rakyat Indonesia. Mereka insyaf bahwa penyelenggaraan pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukkan ke dalam agenda perjuangannya. Maka lahirlah sekolah-sekolah swasta atas usaha para perintis kemerdekaan. Sekolah-sekolah itu semula memiliki dua corak, yaitu:
1. sesuai haluan politik, seperti:
a)Taman siswa
b)Sekolah Serikat Rakyat di Semarang
c)Ksatrian Institut
d)Perguruan Rakyat
2. sesuai dengan tuntunan atau ajaran agama islam, yaitu:
a)Sekolah-sekolah Serikat Islam
b)Sekolah-Sekolah Muhammadiyah
c)Sumatra Tawalib
d)Sekolah-Sekolah Nahdatul Ulama
e)Sekolah-Sekolah Persatuan Umat Islam (PUI)
f)Sekolah-Sekolah Al Jami’atul Wasliyah
g)Sekolah-Sekolah Al-Irsyad
h)Sekolah-Sekolah Normal Islam .
Dan pada makalah ini, insya allah kami akan menjelaskan secara ringkas mengenai organisasi keagamaan dan gerakan pendidikan islam, lebih kususnya adalah tentang Al-Irsyad. Dan semoga dengan makalah ini, kita bisa mengetahui pendidikan Al-Irsyad, sekaligus menambah wawasan dan pemahaman kita tentang pendidikan Al-Irsyad.
BAB II
Pembahasan
A. Sejarah awal berdirinya Al-Irsyad
Syekh Ahmad Surkati adalah tokoh utama berdirinya Jam'iyat al-Islah wa Al-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berubah menjadi Jam'iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) , yang mana kemudian lebih terkenal dengan sebutan Al-Irsyad . Yang mana perkumpulan ini terdiri dari golongan-golongan Arab yang bukan Awali .
Syekh Ahmad Surkati lahir di Desa Udfu, Jazirah Arqu, Dongula (Sudan), 1292 H atau 1875 M. Ayahnya bernama Muhammad dan diyakini masih punya hubungan keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, Sahabat Rasulullah saw. dari golongan Anshar.
Syekh Ahmad Surkati lahir dari keluarga terpelajar dalam ilmu agama Islam. Ayahnya, Muhammad Surkati, adalah lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir. Syekh Ahamd dikenal cerdas sedari kecil. Dalam usia muda, ia sudah hafal Al-Qur'an.
Setamat pendidikan dasar di Mesjid Al-Qaulid, Ahmad Surkati dikirim oleh ayahnya belajar di Ma'had Sharqi Nawi, sebuah pesantren besar di Sudan waktu itu. Ia kembali lulus memuaskan, dan ayahnya ingin ia bisa melanjutkan ke Uniersitas Al-Azhar di Mesir. Namun pemerintahan Al-Mahdi yang berkuasa di Sudan waktu itu, melarang warganya meninggalkan Sudan. Putus keinginan Ahmad muda untuk mengikuti jejak ayahnya, menjadi sarjana Al-Azhar.
Namun suatu waktu, Ahmad Surkati bisa juga lolos dari Sudan dan berangkat ke Madinah dan Mekkah, untuk belajar agama. Tepatnya, setelah ayah beliau wafat pada tahun 1896 M. Di Mekkah, ia sempat memperoleh gelar Al-Allaamah yang prestisius waktu itu, dari Majelis Ulama Mekkah, pada 1326 H . Syekh Ahmad surkati tinggal di Madinah selama 4 tahun, setelah itu ia pergi ke Makkah dan tinggal disana selama 11 tahun .
Meski berada di Mekkah, ia rutin berhubungan dengan ulama-ulama Al-Azhar lewat surat menyurat. Hingga suatu waktu datang utusan dari Jami'at Kheir (Indonesia) untuk mencari guru, ulama Al-Azhar langsung menunjuk ke Syekh Ahmad. Dan beliaupun pergi ke Indonesia bersam dua kawan karibnya, Syekh Muhammad Abdulhamid al-Sudani dan Syekh Muhammad Thayyib al-Maghribi.
Di negeri barunya ini, Syekh Ahmad menyebarkan ide-ide baru dalam lingkungan masyarakat Islam Indonesia. Syekh Ahmad Surkati diangkat sebagai Penilik sekolah-sekolah yang dibuka Jami'at Kheir di Jakarta dan Bogor.
Berkat kepemimpinan dan bimbingannya, dalam waktu satu tahun sekolah-sekolah tersebut maju pesat. Namun Syekh Ahmad Surkati hanya bertahan tiga tahun di Jami'at Kheir, karena perbedaan faham yang cukup prinsipil dengan para penguasa Jami'at Kheir, yang umumnya keturunan Arab sayyid (alawiyin).
Sekalipun Jami'at Kheir tergolong organisasi yang memiliki cara dan fasilitas modern, namun pandangan keagamaannya, khususnya yang menyangkut persamaan derajat, belum terserap baik. Ini nampak setelah para pemuka Jami'at Kheir dengan kerasnya menentang fatwa Syekh Ahmad Surkati tentang kafaah (persamaan derajat).
Karena tak disukai lagi, Syekh Ahmad memutuskan mundur dari Jami'at Kheir, pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan dihari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya dari golongan non-Alawi mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya: Jam'iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berganti nama Jam'iyat al-Islah wal-Irsyad Al-Islamiyyah) .
B.Peranan dan Kontribusi Al-Irsyad Dalam Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
Al-Irsyad di masa-masa awal kelahirannya dikenal sebagai kelompok pembaharu Islam di Nusantara, bersama Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai "Trio Pembaharu Islam Indonesia." Mereka bertiga juga berkawan akrab, Malah menurut A. Hassan, sebetulnya dirinya dan Ahmad Dahlan adalah murid Syekh Ahmad Surkati, meski tak terikat jadwal pelajaran resmi .
Al- Irsyad memandang pendidikan adalah satu-satunya cara untuk mereformasi masyarakat Islam. Bagi para Irsyadi, pendidikan dimaksudkan untuk mencapai dua sasaran. Pertama, ia dimaksudkan untuk mendidik siswa dalam memahami Islam yang benar dengan mengajarkan kepada mereka membaca dan menafsirkan Al-Qur’an dan menolak bid’ah dan khurafat. Kedua, Siswa harus dididik dalam hal ilmu pengatahuan modern dan bahasa-bahasa agar bisa untuk mengatasi keterbelakangan masyarakat Islam (Kesheh, Natalie Mobini, 1997: 30). Dalam perkembangannya, organisasi ini berlandaskan atas apa yang disebut dengan mabadi. Mabadi berasal dari kata Mabda dalam artian bahasa Indoneia mempunyai makna azas; sikap; prinsip; kaidah; landasan atau keyakinan. Adapun isi mabadi Al-Irsyad sendiri awalnya terdiri atas:
1) Mengesakan Allah dengan sebersih-bersihnya peng-esa-an dari segala hal yang berbau syirik, mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala hal.
2) Mewujudkan kemerdekaan dan persamaan dikalangan kaum Muslimin berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, perbuatan para imam yang sah serta perilaku ulama salaf dalam persoalan khilafiyah.
3) Memberantas taqlid buta yang tidak ada sandarannya pada Al-qu’an ataupun sunnah nabi muhammad.
4) Menyebarkan ilmu pengetahuan, kebudayaan Arab-Islam dan budi pekerti luhur yang diridhai Allah.
5) Berusaha mempersatukan kaum muslimin dan bangsa Arab sesuai dengan kehendak dan ridho Allah.
Pada awal perkembangan Al-Irsyad, mabadi diterapkan oleh syekh Ahmad sukarti didalam lembaga pendidikan yang langsung dipimpinnya. Penerapannya pada tahap awal dibatasi pada fungsi mencetak pendidik dan pengajar (dai/ muballigh). Sasaran perwujudan dua fungsi diatas adalah untuk mengatasi kebodohan dan kekurangan tenaga pemimpin dalam masyarakat dewasa itu.
Adapun usaha yang ditempuh untuk menerapkan mabadi sebagai materi yang mampu menjiwai para guru dan sebagai kurikulum dalam pelajaran disekolah-sekolah Al-Irsyad adalah:
1) Tahap Pertama: Menjadikan para pendidik/ tenaga pengajar sekolah, sebagai inti yang harus memahami mabadi dan mempraktikannya dalam keseharian hidupnya. Dari upaya itu diharapkan sekolah-sekolah Al-Irsyad mendapat semangat baru dan mampu bangkit dengan baik.
2) Tahap kedua: Memikirkan bagaimana menyiapkan operasionalisasi materi tersebut sebagai mata pelajaran. Menyusun kurikulum dan kelengkapan instruksional pendidikan lainnya.
3) Tahap ketiga: Mencetak murid-murid bermutu yang dapat menerapkan mabadi Al-Irsyad dalam dirinya, kemudian mampu menjabarkan dalam masyarakat.
Banyak sekali aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan di sekolah-sekolah Al-Irsyad, dimana pemimpin-pemimpin Al-Irsyad di masa yang akan datang dididik dan direkrut dari sini, dan kebanyakan pemimpin-pemimpin tersebut pada gilirannya mengajar pada sekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian, hal tersebut mengauatkan betapa besar peranan dan kontribusi Al-Irsyad dalam dunia pendidikan Indonesia. Bahkan sebagian besar tokoh besar Muhammadiyah kala itu adalah kader-kader yang dibina dalam lembaga pendidikan Al-Irsyad .
Al-Irsyad sendiri menjuruskan perhatian pada bidang pendidikan, terutama pada masyarakat Arab, ataupun pada permasalahan yang timbul dikalangan Arab, walaupun orang-orang indonesia islam bukan Arab, ada yang menjadi anggotanya. lambat laun dengan bekerja sama dengan organisasi Islam yang lain, seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam, organisasi Al-Irsyad meluaskan pusat perhatian mereka kepada persoalan-persoalan yang lebih luas, yang mencakup persoalan Islam umumnya di Indonesia. Ia juga turut serta dalam berbagai kongres al Islam pada tahun 1920 an dan bergabung pada majelis Islam A’la Indonesia ketika federasi ini didirikan pada tahun 1937. Pemuda-pemuda Indonesia asli juga mempergunakan fasilitas Al-Irsyad dalam bidang pendidikan .
C. Jenis-jenis dan Model pendidikan Al-Irsyad.
Pada tahun pertama berdirinya, Al-Irsyad telah membuka sekolah di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Murid-muridnya campuran dari anak-anak keturunan Arab dan anak-anak Indonesia asli yang tinggal di Pondok Bandung, belakang stasiun Tanah Abang.
Setelah tiga tahun berdiri, Perhimpunan Al-Irsyad mulai membuka sekolah dan cabang-cabang organisasi di banyak kota di Pulau Jawa. Setiap cabang ditandai dengan berdirinya sekolah (madrasah). Cabang pertama di Tegal (Jawa Tengah) pada 1917, dimana madrasahnya dipimpin oleh murid Syekh Ahmad Surkati angkatan pertama, yaitu Abdullah bin Salim al-Attas. Kemudian diikuti dengan cabang-cabang Pekalongan, Cirebon, Bumiayu, Surabaya, dan kota-kota lainnya .Cabang-cabang inipun juga menirikan sekolah-sekolah, umumnya semua ditingkat rendah. Pada tahun 1930 an cabang surabaya mendirikan sekolah guru 2 tahun dan sebuah sekolah dasar tingkat rendah berbahasa belanda yang bernama schakel school.
Sekolah Al-Irsyad di Jakarta lebih banyak jenisnya. Terdapat sekolah-sekolah tingkat dasar, sekolah guru, bagian takhassus (dengan pelajaran dua tahun) dimana pelajar dapat mengadakan spesialisasi dalam bidang agama, pendidikan atau bahasa, tetapi struktur seperti ini meminta waktu tahunan untuk dibangun. Mulanya tiap peminat, umur berapapun dapat diterima, sebagai murid, sehingga tidaklah merupakan suatu hal yang luar biasa untuk menemui didalam sekolah tingkat dasar seorang anak muda 18 atau 19 tahun duduk berdampingan dengan anak berumur 8 atau 9 tahundalam suatu kelas. Memang diantara anak-anak itu ada yang telah mendapat pelajaran di sekolah-sekolah lain sebelum memasuki Al-Irsyad.
Perbaikan organisasi sekolah dimulai tahun 1924 ketika sebuah peraturan dikeluarkan bahwa hanya anak-anak dibawah umur 10 tahun yang dapat diterima pada kelas satu sekolah dasar yang lama belajarnya lima tahun. Pelajar-pelajar dari sekolah guru juga mempunyai kesempatan untuk latihan mengajar. Anak yang lebih dari 10 tahun dapat masuk kekelas-kelas yang lebih tinggi, bergantung pada kemampuan yang diperlihatkannya pada ujian masuk. Mereka yang tinggal di asrama sekolah, menerima pula latihan olahraga. Pada waktu itu pemimpin-pemimpin Al-Irsyad lamban laun lebih banyak mengenal tulisan-tulisan Muhammad Abduh tentang pendidikan. Dalam brosur yang dikeluarkan pada tahun 1938 mereka mencontoh saran-saran Muhammad Abduh bahwa dalam mendidik seorang anak hendaklah tekanan diberikan pada tauhid, fiqih dan sejarah. Tauhid akan memungkinkan seorang untuk mengembangkan jiwa dan harta tanpa ragu. Fiqih akan memperbaiki budi pekerti dan batin manusia dari segala noda serta memberi pelajaran dalam hak halal dan haram yang bersandar pada Al-Quran dan hadits-hadits nabi . Secara umum dapat dikemukakan bahwa pendidikan merupakan pembentuk watak, pembentukan kemauan dan latihan untuk melaksanakan kewajiban .
Sekolah-sekolah Al-Irsyad berbeda dari model tradisional, perbedaan ini dalam banyak hal. Rata-rata SD Al-Irsyad memiliki 100 sampai 200 murid, yang membuatnya ini lebih besar dari pada sekolah Arab tradisional. Kebanyakan murid-muridnya adalah anak dari saudagar-saudagar Hadhrami, tetapi orang-orang Indonesia asli juga ada di sekolah-sekolah tersebut. Mereka biasanya anak-anak dari anggota masyarakat Muslim elit di Indonesia, sudagar-saudagar kaya, guru-guru agama dan pegawai-pegawai pemerintah.
Sekolah-sekolah tersebut didasarkan pada suatu sistem kelas-kelas bertingkat/berjenjang, ini sangat berbeda sekali dengan sekolah-sekolah tradisional, dimana murid-murid segala usia diajar bersama-sama dalam sebuah kelompok. Berbagai murid belajar berbagai macam mata pelajaran agama Islam dan umu. Pada awal sekolah, kurikulum didominasi oleh pelajaran bahasa Arab dan dasar-dasar Islam. Sejalan dengan meningkatnya kemajuan, mereka dikenalkan dengan mata pelajaran baru seperti Geografi, Sejarah, Aritmatika, Kesehatan, Tata Buku, Olah Raga, Bahasa Melayu dan Belanda.
perbedaan terbesar dengan sekolah-sekolah tradisional Arab adalah pada dasarnya pendidikan Al-Irsyad memasukkan suatu dasar-dasar modernisasi, suatu pengembangan tentang gagasan dan perkembangan tentang gagasan dan kebiasaan dari Barat yang modern. Ini merupakan suatu kecenderungan yang jauh melewati kurikuluk sekolah. Untuk memulainya, maka gedung-gedung sekolah harus memperhatikan teknologi yang modern. Sekolah-sekolah Al-Irsyad juga menggalakkan untuk menggunakan pemakaian pakaian modern. Foto-foto memperlihatkan bahwa murid laki-laki memakai kemeja putih dengan celana pendek atau celana panjang, sepatu dan kaos kaki, beberapa bahkan menghiasi diri dengan dasi. Tidak ada satupun dari hal-hal di atas bisa didapatkan dalam suatu sekolah tradisional.
Jika dilihat dari segi kurikulum, kurikulum yang digunakan di sekolah-sekolah Al-Irsyad jauh berbeda dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari komposisi mata pelajaran yang diajarkan di Al-Irsyad adalah 60% adalah mata pelajaran umum, seperti Matematika, Geografi, Sejarah, dan lain sebagainya Sedangkan 40% adalah mata pelajaran mengenai agama Islam, seperti Al-Qur’an, Hadits, Fikih, Tauhid, Akhlak, Nahwu Shorof, Bahasa Arab, serta mata pelajaran Mabādĩ Al-Irsyad, dan lain sebagainya. Dalam perkembangannya, sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah sejak awal berdirinya sampai sekarang selalu bernaung dibawah Departemen Pendidikan Nasional. Sedangkan Al-Irsyad, menurut Kesheh (1997: 34) dari awal berdirinya memang organisasi dibidang pendidikan yang sangat desentralisasi. Sehingga aktivitas-aktivitasnya berasal dan dilaksanakan pada tingkat cabang, sedangkan para eksekutifnya sedikit saja melakukan suatu peranan koordinasi. Sedangkan dalam perkembangannya sekolah-sekolah ini dibawah kordinasi dengan Departemen Agama yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional .
Sejak awal berdirinya, Al-Irsyad Al-Islamiyyah bertujuan memurnikan tauhid, ibadah dan amaliyah Islam. Bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Untuk merealisasikan tujuan ini, Al-Irsyad sudah mendirikan ratusan sekolah formal dan lembaga pendidikan non-formal di seluruh Indonesia. Dan dalam perkembangannya kemudian, kegiatan Al-Irsyad juga merambah bidang kesehatan, dengan mendirikan beberapa rumah sakit. Yang terbesar saat ini adalah RSU Al-Irsyad di Surabaya dan RS Siti Khadijah di Pekalongan .
Murid-murid Al-Irsyad, pada tahun-tahun pertama didirikan, terdiri dari anak-anak kalangan Arab dan sebagian juga (walau dalam jumlah yang lebih kecil) anak-anak Indonesia asli dari Sumatera dan Kalimantan. Kemudian lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang masuk sekolah itu. Di luar Jakarta dan Surabaya murid-muridnya terdiri dari anak-anak keluarga setempat saja. Mereka banyak terdiri dari ana-anak penghulu, pedagang dan guru-guru dan beberapa diantaranya anak-anak pegawai pemerintah. Para lulusan yang termasuk yang di Jakarta dan Surabaya pada umumnya menjadi guru ataupun pedagang .
Namun perkembangan Al-Irsyad yang awalnya naik pesat, kemudian menurun drastic bersamaan dengan masuknya pasukan pendudukan Jepang ke Indonesia. Apalagi setelah Syekh Ahmad Surkati wafat pada 1943, dan revolusi fisik sejak 1945. Banyak sekolah Al-Irsyad hancur, diporak-porandakan Belanda karena menjadi markas laskar pejuang kemerdekaan. Sementara beberapa gedung milik Al-Irsyad yang dirampas Belanda, sekarang berpindah tangan, tanpa bisa diambil lagi oleh Al-Irsyad.
D. Kondisi pendidikan Al-Irsyad pada saat ini.
Sekolah-sekolah Al-Irsyad pada masa sekarang mengalami penurunan kwalitas organisasi, serta mutu. Penurunan mutu ini dikarenakan:
1) Sekolah Al-Irsyad pada masa kini tidak mengajarkan mabadi Al-Irsyad kepada murid-muridnya. Ynag diajarkan adalah pelajaran ke-Al-Irsyad-an. Terminologi salah yang mengadopsi dari mata pelajaran ke-Muhammadiyah-an dilingkungan Organisasi Muhammadiyah.
2) Murid yang tamat dari sekolah Al-Irsyad tidak diberi bekal mabadi dan karenanya tidak cukup mempunyai persiapan dalam menghadapi kehidupan sesudah keluar dari jenjang pendidikan Al-Irsyad. Dengan kata lain hanyalah merupakan usaha yang sia-sia belaka.
3) Secara organisatoris Al-Irsyad Al-Islamiyyah terkena dampak akibat kurikulum pendidikan yang salah tersebut.
4) Guru-guru sekolah Al-Irsyad juga tidak memahami dengan baik mabadi Al-Irsyad sehingga tidak mampu menerapkan materi tersebut kepada anak didiknya.
5) Mabadi Al-Irsyad merupakan barang asing, diketahui hanya untuk sebatas pelajaran sejarah Al-Irsyad dan tidak menyentuh esensi perjuangan pembaharuan Islam karenanya tidak memberikan dampak yang berarti terhadap diri murid-murid .
BAB III
Kesimpulan
Peran Al-Irsyad dalam pendidikan di Indonesia sangat berpengaruh dan memberikan corak tersendiri dalam sistem pendidikan di negara kita, disaat banyaknya sekolah-sekolah yang lebih mementingkan kepentingan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek moral, Al-Irsyad tampil sebagai pendidikan yang menimbang aspek moral, yang bertujuan untuk meningkatkan moral bangsa Indonesia dan menjadikan penerus-penerus bangsa yang taat terhadap agamanya. Selain itu Al-Irsyad juga turut meningkatkan mutu pendidikan, sepak terjang Al-Irasyad dalam dunia pendidikan tidak diragukan atas kontribusinya dalam mendidik rakyat di negara kita Indonesia. Pada masa kemasa Al-irasyad pun mengalami perkembangan cukup pesat.
BAB IV
Daftar Pustaka
1.Dra. Zuhairini, dkk, sejarah pendidikan islam, Bumi Aksara, Jakarta,2008.
2.Prof. Dr. H. Nizar, Syamsul. Sejarah pendidikan islam di Indonesia, Bandung, pustaka setia, 2006.
3.www.alirsyad.org.
4.http: history-upi.blogspot.com201001islam-dan-pendidikan-al-irsyad-al.htm.
ulang tahun
ULANG TAHUN
BAB 1
Pendahuluan
Sudah tidak asing dan aneh lagi, ketika kita mendengar kata “ulang tahun” di telinga kita, seolah-olah rangkaian kata ini sudah mendarah daging dikalangan masyarakat Indonesia, baik mereka islam ataupun kafir, baik diperkotaan atau di pelosok desa, dan sangat disayangkan banyak dari masyarakat kita melakukan hal tersebut hanya sekedar ikut-ikutan atau bahasa gaulnya megikuti trend, dan tidak hanya itu banyak dari kalangan umat islam di negara Indonesia yang menganggap hal ini adalah dari islam dan sebagian beranggapan bahwa hal tersebut adalah hal biasa.
Oleh karena itu disini penulis akan mencoba mengangkat permasalahan yang sangat penting ini, yang mana masalah ini juga sudah berkembang dikalangan masyarakat luas yaitu ”ulang tahun”.
Dengan membahas masalah ini setidaknya bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita bersama tentang perayaan ulang tahun ini. Sehingga kita bisa ikut andil memberikan solusi dan saran, sekaligus kritik demi tercapainya masyarakat yang berpengetahuan.
BAB 2
Pembahasan
1. Sejarah asal mula perayaan ulang tahun
Happy Birthday To you
Happy Birthday To You
Happy Birthday Dear Friend
Happy Birthday To you...
Lagu yang sangat akrab di telinga kita ini sering dinyanyikan untuk memeriahkan seseorang yang sedang Berulang Tahun. potongan “Happy Birthday To You” di atas memang bukan produk Indonesia. “Lagu itu ASLI dari kebudayaan Asing tidak disadari sudah menyatu dalam kultur masyarakat kita, Lagu yang pertama kali diciptakan pada tahun 1893 oleh dua perempuan bersaudara berkebangsaan Amerika Serikat itu telah menjadi semacam “lagu kebangsaan” atau “Lagu wajib” bagi yang berulang tahun dan berlaku siapa saja, tua muda segala lapisan” .
“Dalam catatan di Tabloid NOVA, 679/XIV, 4 Maret 2001, ternyata tradisi perayaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Hal tersebut dilakukan untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun.”
Merayakan ulang tahun merupakan sejarah lama. Orang-orang zaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka. Sejalan dengan peradaban manusia, diciptakanlah kalender. Kalender memudahkan manusia untuk mengingat dan merayakan hal-hal penting setiap tahunnya, dan ulang tahun merupakan salah satunya.
Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu. Ada sedikit penjelasan mengapa perayaan ulang tahun harus menggunakan kue. Salah satu cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Cerita lainnya tentang kue ulang tahun yang bermula di Jerman yang disebut sebagai “Geburtstagorten” adalah salah satu tipe kue ulang tahun yang biasa digunakan saat ulang tahun. Kue ini adalah kue dengan beberapa layer yang rasanya lebih manis dari kue berbahan roti.
Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin ulang tahun diatas kue. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan (gibbons, 1986). Orang Jerman terkenal sebagai orang yang ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakan dengan alasan keagamaan/religi. Beberapa orang jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk menandakan “Terangnya Kehidupan” (Corwin,1986). Yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga.
2. perayaan ulang tahun sebagai suatu adat
Bagi sebagian masyarakat, tradisi merayakan ulang tahun sudah sangat mengakar sebagai dampak dari tradisi yang kian menguat dalam kultur masyarakat kita. Entah ulang tahunnya para petinggi negara, para artis, buruh, petani, nelayan, pelajar, karyawan hingga sampai kepada kultur masyarakat paling intelek sekalipun yakni kalangan cendekiawan. Begitu kentalnya kultur merayakan Ulang Tahun ini sampai timbul semacam “keharusan” atau bahkan mungkin semacam "kewajiban" yang harus dibayar tunai. Sering kita dengar ada sebagian remaja yang memaksakan kehendak untuk mengadakan pesta ulang tahun, meskipun terbilang dia dari kalangan orang yang tidak mampu. Bahkan muncul sebuah pemikiran “ Biar tekor asal tersohor”.
Kalau melihat banyak fakta-fakta orang merayakan Ulang Tahun, seolah-olah perayaan ini menjadi semacam pembenaran (justifikasi) bahwa tradisi itu sudah menjadi trend bagi sebagian masyarakat kita. Dengan melihat banyaknya kecenderungan yang seperti itu, maka dapat dibilang bahwa perayaan ulang tahun sudah menjadi semacam gaya hidup. Budaya tersebut lamban laun sudah menjadi trademark kehidupan sebagian dari remaja kita. Intinya, remaja yang tidak mengadakan pesta ulang tahun, siap dicap sebagai remaja kurang pergaulan dalam komunitas seperti itu.
3. faktor yang mempengaruhi berkembangnya perayaan ulang tahun
Pada saat ini perayaan ulang tahun sudah hampir merasuk kedalam semua kalangan masyarakat, baik mereka di kota ataupun di pelosok desa, hal ini terjadi seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, baik melalui media cetak ataupun media elektronik, seperti: televisi,internet,handfone,koran,majalah atupun media-media yang lain.
BAB 3
Penutup
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, penulis mengambil kesimpulan bahwa ulang tahun adalah bukan barasal dari islam tidak pula dari negara Indonesia tidak pula warisan nenek moyang bangsa Indonesia, Tpi juga perlu di pahami bahwa perayaan ulang tahun pada saat ini sudah menjadi suatu adat yang mendarah daging bagi masyarakat Indonesia, tak pandang tua ataupun muda, di kota atau di pelosok desa.
Perayaan ulang tahun sudah menjadi sistem sosial di negara kita, yang mana maasyarakat kita sudah menganggap hal ini adalah hal yang harus dirayakan tiap tahun. Dan dari pemaparan diatas kita juga tahu bahwa kebudayaan fisik yang dihasilkan adalah kue ulang tahun, kado ulang tahun, kartu ulang tahun.
Mungkin hanya ini pemaparan yang bisa penulis paparkan, semoga kita selalu dilindungi oleh Allah yang maha kuasa.
BAB 1
Pendahuluan
Sudah tidak asing dan aneh lagi, ketika kita mendengar kata “ulang tahun” di telinga kita, seolah-olah rangkaian kata ini sudah mendarah daging dikalangan masyarakat Indonesia, baik mereka islam ataupun kafir, baik diperkotaan atau di pelosok desa, dan sangat disayangkan banyak dari masyarakat kita melakukan hal tersebut hanya sekedar ikut-ikutan atau bahasa gaulnya megikuti trend, dan tidak hanya itu banyak dari kalangan umat islam di negara Indonesia yang menganggap hal ini adalah dari islam dan sebagian beranggapan bahwa hal tersebut adalah hal biasa.
Oleh karena itu disini penulis akan mencoba mengangkat permasalahan yang sangat penting ini, yang mana masalah ini juga sudah berkembang dikalangan masyarakat luas yaitu ”ulang tahun”.
Dengan membahas masalah ini setidaknya bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita bersama tentang perayaan ulang tahun ini. Sehingga kita bisa ikut andil memberikan solusi dan saran, sekaligus kritik demi tercapainya masyarakat yang berpengetahuan.
BAB 2
Pembahasan
1. Sejarah asal mula perayaan ulang tahun
Happy Birthday To you
Happy Birthday To You
Happy Birthday Dear Friend
Happy Birthday To you...
Lagu yang sangat akrab di telinga kita ini sering dinyanyikan untuk memeriahkan seseorang yang sedang Berulang Tahun. potongan “Happy Birthday To You” di atas memang bukan produk Indonesia. “Lagu itu ASLI dari kebudayaan Asing tidak disadari sudah menyatu dalam kultur masyarakat kita, Lagu yang pertama kali diciptakan pada tahun 1893 oleh dua perempuan bersaudara berkebangsaan Amerika Serikat itu telah menjadi semacam “lagu kebangsaan” atau “Lagu wajib” bagi yang berulang tahun dan berlaku siapa saja, tua muda segala lapisan” .
“Dalam catatan di Tabloid NOVA, 679/XIV, 4 Maret 2001, ternyata tradisi perayaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Hal tersebut dilakukan untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun.”
Merayakan ulang tahun merupakan sejarah lama. Orang-orang zaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka. Sejalan dengan peradaban manusia, diciptakanlah kalender. Kalender memudahkan manusia untuk mengingat dan merayakan hal-hal penting setiap tahunnya, dan ulang tahun merupakan salah satunya.
Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu. Ada sedikit penjelasan mengapa perayaan ulang tahun harus menggunakan kue. Salah satu cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Cerita lainnya tentang kue ulang tahun yang bermula di Jerman yang disebut sebagai “Geburtstagorten” adalah salah satu tipe kue ulang tahun yang biasa digunakan saat ulang tahun. Kue ini adalah kue dengan beberapa layer yang rasanya lebih manis dari kue berbahan roti.
Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin ulang tahun diatas kue. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan (gibbons, 1986). Orang Jerman terkenal sebagai orang yang ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakan dengan alasan keagamaan/religi. Beberapa orang jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk menandakan “Terangnya Kehidupan” (Corwin,1986). Yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga.
2. perayaan ulang tahun sebagai suatu adat
Bagi sebagian masyarakat, tradisi merayakan ulang tahun sudah sangat mengakar sebagai dampak dari tradisi yang kian menguat dalam kultur masyarakat kita. Entah ulang tahunnya para petinggi negara, para artis, buruh, petani, nelayan, pelajar, karyawan hingga sampai kepada kultur masyarakat paling intelek sekalipun yakni kalangan cendekiawan. Begitu kentalnya kultur merayakan Ulang Tahun ini sampai timbul semacam “keharusan” atau bahkan mungkin semacam "kewajiban" yang harus dibayar tunai. Sering kita dengar ada sebagian remaja yang memaksakan kehendak untuk mengadakan pesta ulang tahun, meskipun terbilang dia dari kalangan orang yang tidak mampu. Bahkan muncul sebuah pemikiran “ Biar tekor asal tersohor”.
Kalau melihat banyak fakta-fakta orang merayakan Ulang Tahun, seolah-olah perayaan ini menjadi semacam pembenaran (justifikasi) bahwa tradisi itu sudah menjadi trend bagi sebagian masyarakat kita. Dengan melihat banyaknya kecenderungan yang seperti itu, maka dapat dibilang bahwa perayaan ulang tahun sudah menjadi semacam gaya hidup. Budaya tersebut lamban laun sudah menjadi trademark kehidupan sebagian dari remaja kita. Intinya, remaja yang tidak mengadakan pesta ulang tahun, siap dicap sebagai remaja kurang pergaulan dalam komunitas seperti itu.
3. faktor yang mempengaruhi berkembangnya perayaan ulang tahun
Pada saat ini perayaan ulang tahun sudah hampir merasuk kedalam semua kalangan masyarakat, baik mereka di kota ataupun di pelosok desa, hal ini terjadi seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, baik melalui media cetak ataupun media elektronik, seperti: televisi,internet,handfone,koran,majalah atupun media-media yang lain.
BAB 3
Penutup
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, penulis mengambil kesimpulan bahwa ulang tahun adalah bukan barasal dari islam tidak pula dari negara Indonesia tidak pula warisan nenek moyang bangsa Indonesia, Tpi juga perlu di pahami bahwa perayaan ulang tahun pada saat ini sudah menjadi suatu adat yang mendarah daging bagi masyarakat Indonesia, tak pandang tua ataupun muda, di kota atau di pelosok desa.
Perayaan ulang tahun sudah menjadi sistem sosial di negara kita, yang mana maasyarakat kita sudah menganggap hal ini adalah hal yang harus dirayakan tiap tahun. Dan dari pemaparan diatas kita juga tahu bahwa kebudayaan fisik yang dihasilkan adalah kue ulang tahun, kado ulang tahun, kartu ulang tahun.
Mungkin hanya ini pemaparan yang bisa penulis paparkan, semoga kita selalu dilindungi oleh Allah yang maha kuasa.
Langganan:
Komentar (Atom)